Archive for ANALISIS HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR MODAL DENGAN NILAI PERUSAHAAN

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR MODAL DENGAN NILAI PERUSAHAAN

PROFIL PERUSAHAAN

Perusahaan ini didirikan pada 6 April 1973 dan Perusahaan telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya untuk 7.000.000 saham pada 6 Juni 1990.  Sesuai dengan resolusi Rapat Umum Luar Biasa Pemegang Saham tanggal 8 Oktober 2004, Perusahaan telah disetujui untuk melaksanakan peningkatan modal disetor tanpa hak memesan Efek terlebih dahulu (HMETD) dengan Konversi Hutang Kreditur, untuk jumlah saham 176.571.000 nilai nominal Rp.500 per saham atau total jumlah Rp.88.285.500.000.

Akta penyelesaian pertemuan mengenai menerbitkan saham baru untuk 176.571.000 saham atau Rp.88.285.500.000 telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 5 November 2004. Per 31 Desember 2004 sebagian dari total saham Perusahaan yaitu: 523.000.000 saham (sebelum konversi saham tanpa pre-emptive right) yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Sementara aplikasi untuk pendaftarannya 176.571.000 saham baru untuk berbagi sedang dalam proses di Bursa Efek Jakarta. Pabrik Perusahaan terletak di Bandung dan ruang lingkup usaha meliputi pengolahan bahan baku (polimerisasi), melilit, memintal, menenun industri tekstil serta perdagangan umum. Produksi komersial dari industri tekstil mulai pada tahun 1974 sementara unit pertama kegiatan polimerisasi dimulai pada tahun 1990 dan unit kedua pada tahun 1993.

Pada tanggal 31 Desember, 2004: kepemilikan saham di anak perusahaan, PT. PANASIA Filament Inti (Panafil) telah diencerkan dan menurun hingga 22, 85% karena konversi utang ke dalam ekuitas oleh salah seorang Kreditor dari Panafil sejak Oktober 8, 2004. Lingkup usaha anak perusahaan ini (Panafil) adalah di bidang industri tekstil (kain).

Pada tanggal 17 Juni 1997 Panafil menerima pemberitahuan mengenai Efektifitas Pernyataan Pendaftaran untuk penawaran umum 50 juta saham dan per 31 Desember 2004, Panafil saham yaitu: saham seri A untuk jumlah 250 juta saham yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya Stock Exchange. Sementara itu menerbitkan saham baru karena Ekuitas Debt Swap sana kemari untuk 625.357.000 saham seri B sedang dalam proses di Bursa Efek Jakarta. PT. PANASIA Filament Inti (Panafil)

LOKASI PABRIK PT. Panasia Indosyntec
Tanah dan bangunan polimer pertama, kedua pabrik polimer dan serat benang divisi, berlokasi di Jl. Moch. Toha Km. 6,8 Cisirung Bandung. Nilai buku bersih per 31 Desember 2004 benang dan serat divisi Rp.665.853 juta.

Tanah dan bangunan Panafil terdiri dari beberapa unit-unit operasional yaitu:

  • Weaving Unit I, yang terletak di Jl. Moch. Toha Km 6,8 Bandung
  • Weaving Unit II dan Finishing Unit Pengolahan berlokasi di Jl. Cisirung No.101 Bandung
  • Weaving Unit III adalah merepresentasikan sebuah pabrik tekstil ultra modern, berlokasi di Jl. Cisirung No.95 Bandung. Nilai buku bersih pada tanggal 31 Desember 2004 adalah Rp.423.580 juta

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR MODAL DENGAN NILAI PERUSAHAAN

  1. Perhitungan debt to equity ratio :

Rumus :

Debt to equity ratio =

Tahun 2004 :  Debt to equity ratio =  = 2.404

Tahun 2005 : Debt to equity ratio =  = 0.67

Tahun 2006 : Debt to equity ratio =     = 0.6889

Tahun 2007 : Debt to equity ratio =  = 0.34

Tahun 2008 : Debt to equity ratio =   = 0.4101

  1. Grafik
Date Close Return Debt to Equity Ratio
20081230 400 0 0,4101
20071228 400 0 0,34
20061228 400 0 0,6889
20051229 400 -0,2 0,67
20041230 500 -0,09091 2,404
20031230 550 0
  1. Analisis

Pada data keterkaitan antara hutang dan modal diatas, menunjukkan bahwa rasio hutang dari tahun 2004 ke tahun 2008 cenderung mengalami penurunan. Ini dapat dikatakan perusahan PT.Panasia Indosytec,tbk mengalami kondisi perusahaan yang buruk. Hal itu dapat terjadi karena kemampuan perusahaan untuk menanggung kewajiban-kewajibannya menurun, sehingga dana untuk menjalankan operasi perusahaan lebih banyak dibebankan kepada para investor..

Pada grafik diatas, terlihat adanya penurun debt to equity ratio yang diikuti dengan penurunan harga saham. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara rasio-rasio perusahaan dengan harga saham, dimana semakin tinggi rasio, menyebabkan investor tertarik untuk membeli saham. Pada PT. Panasia memiliki rasio yang rendah, sehingga menyebabkan investor yang tidak tertarik untuk menanamkan modal. Rasio yang rendah menunjukan perusahaannya tidak baik, sehingga para investor enggan menanggung risiko kerugian.

Berdasarkan data diatas tampak bahwa harga saham PT Panasia Indosyntec dari bulan februari sampai dengan bulan september tahun 2009 mengalami penurunan. Hal ini bermula dari penjualan perusahaan tahun 2008 turun Rp 93,8 miliar karena turunnya penjualan segmen polimer benang Rp 73,7 miliar dan turunnya penjualan kain khusus polyester Rp 20,1 miliar

Akibat tekanan harga jual dan menyusut permintaan pasar karena belum ada tanda – tanda recoveri krisis keuangan global.

Laba bruto tahun 2009 turun menjadi Rp 0,9 Miliar dibandingkan tahun 2008 karena negatifnya laba bruto segmen polimer benang setelah dioffset positifnya laba bruto kain khusus polyester.

Laba usaha tahun 2009 turun menjadi Rp 9,9 Miliar dibandingkan tahun 2008 karena laba bruto segmen polimer benang belum dapat mengkompensasi biaya operasional akibat tekanan harga jual dan tingginya harga baku benang.

Beban lain – lain negatif Rp 32,6 miliar karena adanya ruginya pendapatan operasional dan rugi kurs akibat lemahnya nilai rupiah terhadap US dollar.

Pada tahun 2008 penjualan bersih naik 34,2% dari tahun 2007 karena naiknya penjualan segmen benang polimer 10,6% dan tambahan penjualan kain khusus polyester 367,7% karena penjualan kain khusus polyester meliputi 12 (dua belas) bulan sedang tahun 2007 hanya (3) tiga bulan .

Laba bruto tahun 2008 turun daru tahun 2007 15,5% karena tekanan pasar dan turunnya harga jual benang sebagai akibat dampak negatif krisis

ANALISIS MANAJEMEN MODAL KERJA PERUSAHAAN

  1. Modal kerja perusahaan

Rumus :

Modal kerja bersih = aktiva lancar – hutang lancar

Tahun 2004 : Rp 357,507,067,877 – Rp 337,070,734,745 = Rp 20,436,333,132

Tahun 2005 : Rp 334,791,415,143 − Rp 333,482,407,919 = Rp 1,309,007,224

Tahun 2006 : Rp 345,978,631,335 – Rp 346,182,010,675 = Rp -203,379,340

Tahun 2007 : Rp 397,810,462,427 – Rp 352,108,080,312 = Rp 45,702,382,115

Tahun 2008 : Rp 420,113,552,161 – Rp 482,128,582,766 = Rp -62,015,030,605

  1. Cash Conversion Cycle (CCC)

Rumus :

CCC = DSO + DSI − DPO

Di mana :

DSO (days of sales outstanding) :  × 365

DSI ( days of sales inventory) :  × 365

DPO : days of payable outstanding :  × 365

Tahun 2004

  • DSO    =

= 80,841

  • DSI     =

= 51,672

  • DPO    = X 365=

=133,5140

  • CCC    = 80,841 + 51,672 – 133,514 = – 1,046

Tahun 2005

  • DSO    =  X 365

= 77,798

  • DSI     =

= 49,493

  • DPO    =

= 123,720

  • CCC    = 77,798 + 49,493 – 123,720

= 3,571

Tahun 2006

  • DSO    =

= 88,475

  • DSI =

= 49,985

  • DPO =

= 129,913

  • CCC = 88,475 + 49,985 – 129,913 = 8,547

Tahun 2007

  • DSO    =

= 60,976

  • DSI =

= 93,318

  • DPO =

= 125,044

  • CCC = 60,976 + 93,318 – 125,044 = 29,25

Tahun 2008

  • DSO    =

= 55,613

  • DSI =

= 65,015

  • DPO =

= 130,321

  • CCC = 55,613 + 65,015 – 130,321 = -9,693

ANALISIS TAHUN 2004 SAMPAI 2008

Pada PT.Panasia Indosytec,tbk ditahun 2004 dan 2008 memiliki CCC ( cash conversion cycle ) negatif. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan mengalami kegagalan dalam memutarkan piutang dagang dan persediaan perusahaan. Karena adanya kegagalan ini, dapat menyebabkan perusahaan kehilangan laba bahkan mengalami kerugian.Pada tanda krisis ini, mengakibatkan perusahaan mengalami kekurangan kas dan termasuk penurunan kredit. Jadi, pada tahun 2004 dan 2008, memiliki hubungan yang terpengaruh positif-lemah dengan likuiditas dan ROE karena nilai CCC tidak mencapai 1.

Di tahun 2005,2006, dan 2007 menunjukkan adanya peningkatan pada CCC, hal ini juga mengakibatkan adanya peningkatan likuiditas dan ROE pada PT. Panasia Indosytec,tbk.

Pada tahun 2004 dan 2008 persentase menjadi negatife karena pada tahun tersebut.karena perusahaan tidak mampu mendapatkan laba bersih melainkan mengalami rugi, namun rasio probabilitasnya tinggi.

Pt. Panasia Indosytec, tbk. Secara garis besar memiliki rasio pertumbuhan yang negative atau mengalami penurunan rasio pertumbuhan. P.I memiliki nilai price to earning ratio tahun 2005 dan market to book value yang baik artinya perusahaan menciptakan nilai yang baik pada masyarakat atau pemegang saham.

Untuk P.I dilihat dari rasio laba operasi bersih terhadap penjualan dan total aktiva, perusahaan memiliki nilai rasio yang negative. Hal ini dikarenakan tiga tahun berturut-turut perusahaan mengalami kerugian operasi bersih yang disebabkan oleh penjualan yang diperoleh yang tidak seimbang dengan hpp dan beban usaha untuk memperbaiki situasi tersebut. Perusahaan hendaknya menekan perusahaan yang memiliki value added .

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.